KAMI PERLU BELAJAR EKONOMI SYARIAH DARI INDONESIA

TERPILIH kembali sebagai Mufti Besar Bulgaria pada akhir Maret lalu, Mustafa Ali menjadi pemimpin tertinggi komunitas Islam Bulgaria—tanpa jeda—selama sebelas tahun terakhir. Lembaga Statistik Nasional Bulgaria mencatat hampir sepuluh persen dari sekitar 7,3 juta penduduk adalah muslim. Walhasil, bekas negeri komunis ini mencatat rekor sebagai negara Balkan—bahkan Eropa—yang komunitas Islamnya berkembang paling subur. Mustafa mengakui Islam Bulgaria, dan Balkan, amat berbeda dengan Indonesia. ”Di sini negara tidak mewajibkan pendidikan agama, dan lulusan sekolah Islam tak berminat menjadi imam dan mengurusi umat,” ujarnya kepada Tempo.

”Ini salah satu problem utama kami,” kata Mustafa, yang meraih doktor teologi Islam di Turki. Dia menambahkan bahwa ia amat ingin mengupayakan kerja sama pendidikan dengan Indonesia, ”yang kualitas pendidikan Islamnya amat tinggi”. Dalam konferensi terbatas 75 pemimpin Islam di Bulgaria pada Maret lalu di Smolyan—salah satu dari dua provinsi Bulgaria dengan umat muslim paling besar—Mustafa menerima wartawan Tempo Hermien Y. Kleden untuk satu wawancara khusus di sela-sela konferensi. Percakapan berlangsung dalam bahasa Slavia-Bulgaria, dengan bantuan seorang penerjemah.

Mengapa jumlah imam (ustad) di Bulgaria amat sedikit, padahal ada berbagai sekolah muslim, dari level menengah hingga tinggi? Benar bahwa kami punya sekolah-sekolah menengah muslim, bahkan ada institut pendidikan tinggi Islam di Sofia. Tapi minat masyarakat untuk belajar pendidikan Islam amat rendah. Hanya sedikit sekali yang berminat menjadi ustad. Kenapa begitu? Penghasilannya terlalu kecil. Para imam masjid, yang juga mengurusi umat, hanya dibayar 250-300 euro. Padahal, untuk memenuhi kebutuhan dasar saja, minimal diperlukan 500 euro. Soal lain: fasilitas dan properti mufti—istilah setempat untuk pemimpin umat muslim—sudah dinasionalkan (pada zaman komunis). Setelah pemerintahan komunis jatuh, negara tak memberi subsidi pemulihan hak-hak atas properti ini. Itu sebabnya kaum muda muslim kami memilih bekerja di luar negeri.

Maksud Anda, bekerja sebagai imam? Rata-rata mereka pergi ke Eropa (Barat). Kerjanya macam-macam, dari menjadi imam masjid sampai mencuci mobil. Anda bandingkan saja, menjadi pencuci mobil di Eropa mereka bisa mendapatkan 1.500 euro per bulan, dibanding 250 euro menjadi imam di Bulgaria. Saya tidak menyalahkan pilihan mereka untuk survive. Walhasil, jumlah imam kami amat kecil, berbeda sekali dengan Indonesia, yang punya imam berlimpah-ruah. Mengapa tidak membuat pertukaran siswa dengan Indonesia di bidang pendidikan Islam? Kami dengar pendidikan Islam di Indonesia amat berkualitas. Juga ada pengembangan ekonomi syariah.

Kami benar-benar butuh belajar dari para tenaga ahli Indonesia di bidang ini. Kami sudah membuka kontak dengan pemerintah Indonesia melalui kedutaan dan akan mengusahakan benar ada kerja sama pendidikan keislaman. Problem utama apa yang Anda hadapi sebagai kelompok minoritas di Bulgaria dan Balkan? Meningkatnya fobia-Islam.

Problem ini bukan hanya terjadi di level pemerintahan, tapi juga sosial, bahkan media. Kami— Islam dan Kristen—telah hidup bersama dalam damai selama berabadabad. Namun dalam beberapa tahun terakhir tekanan terasa lebih meningkat dengan adanya gerakan ekstra-nasionalis. Jika ini terus-menerus terjadi, bisa memicu kekerasan.

Bagaimana hubungan komunitas Islam dengan Gereja Kristen Ortodoks, yang menjadi mayoritas, bahkan menjadi ”agama resmi” yang ditetapkan pemerintah? Kami tidak punya masalah dengan Kristen Ortodoks ataupun kelompok-kelompok religius lainnya. Tapi kami punya masalah dengan pemerintah. Banyak pejabat masih berpikir dengan cara komunis. Misalnya? Janganlah para pejabat itu campur tangan dalam kehidupan komunitas religius, termasuk Islam.

Sebaliknya, kami, sebagai kelompok religius, juga tidak ingin mencampuri urusan politik. Seberapa jauh isu radikalisme diwaspadai oleh komunitas muslim Bulgaria? Radikalisme hanya bisa timbul ketika tidak ada pemahaman dan pengetahuan terhadap agama. Interpretasi yang salah terhadap jihad, misalnya, membuat orang membunuh mereka yang tak berdosa. Di sinilah terjadi transformasi jihad ke terorisme. Padahal jihad sama sekali tak berkaitan dengan terorisme.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *